Imam syafii pernah bilang,
“berhijrahlah, makan kamu akan mendapatkan apa yg akan kamu tinggalkan”. Gue dapet kata itu dari
mata pelajaran mahfudzot ketika masih menuntut ilmu di pondok. Entah kenapa
ilmu dituntut di pondok, harusnya kan ‘dituntut’ itu di pengadilan. *krik krik*
Terusin bacanya ya, guys. Guys,
guys, guys ??!!!
Kembali ke topic. Saat mendengar
quote itu gue memang masih polos. Masih belom akil baligh. Masih belom
menemukan jati diri gue sebenarnya, dan belom mengetahui bahwa ada makhluk
hidup seperti Farhat Abbas di dunia nyata. Tapi dewasa ini (ciaelah bahasanya),
gue mulai sedikit banyak menemukan arti quote diatas. Memang udah jadi fitrah
manusia buat hijrah/berpindah. Karena ketika berpindah, lo bakalan nemuin
sesuatu yang belom pernah lu liat, rasakan, dan pelajari sebelumnya.
Saat lo coba untuk traveling ke bagian sudut dunia lainnya,
berpindah dari tempat biasanya menetap. Bakalan banyak hal yang sebelumnya
belom terlihat secara kasat, contoh kecilnya pemandangan-pemandangan indah yang
bikin mata kita ejakulasi. Air mata bahagia muncul tiba-tiba nggak kenal kondisi. Itu semua, lo dapetin setelah pindah.
Ketika lo harus memasuki lingkungan
yang baru, menemukan dan mempelajari karakteristik manusia yang belom pernah
ditemui sebelumnya. Menemukan sahabat-sahabat yang baru untuk menertawakan
saat-saat bodoh bersama. Itu semua, lo dapetin setelah pindah.
Masalah perihal hati, mungkin
manusia juga harus pindah. Atas nama kenyamanan, seseorang mencari sesuatu yang
berbeda. Kemudian menetap disana setelah merasa betah. Sekali lagi, itu semua
lo dapetin setelah pindah.
Mungkin bagi sebagian orang jika bicara
terkait hati, masalah pindah, bukan merupakan perihal yang mudah. Butuh persiapan mental, keputusan yg matang,
bahkan mungkin harus ada air mata, sampai drama yang tak ada habisnya. Karena
ini sekali lagi merupakan perihal hati, sangat menyangkut dengan emosi. Ketika
hati sudah kuat, tekad sudah bulat, dan keputusan sudah dibuat, keraguan datang
memainkan peran sebagai penghambat.
Keraguan itu datang dalam bentuk yg
sederhana saja, seperti :
“jika ingin pindah (hati), apakah
di tempat yang baru kenyamanan akan ditemui?”.
Tapi perpindahan merupakan sebuah
percobaan, kita nggak bakal mengetahui jawabannnya sebelum melakukannya. Pindah,
adalah hal yang harus dicoba. atau memaksakan diri untuk berani mencoba.
Mungkin memang akan selalu ada
indah dalam setiap pindah. Ada kenyamanan yang membuat betah. Banyak pelajaran
yang membuat kita tergugah, untuk terus mencari hal-hal yang belum pernah kita
ketahui sebelumnya.
Tapi jika setelah pindah belum
menemukan apa yang dicari. Kata ‘Kembali’, tidak ada salahnya untuk dipikirkan
kembali.

kalo udah pernah nyoba buat pindah tapi ternyata gak bisa dan kembali pun tetep gak bisa gimana?
ReplyDeleteya..coba nerima hal yg baru, mungkin lebih baik dari yang dijalanin sekarang atau yang dulu.
ReplyDelete