Pagi ini cuaca dingin sudah menyapa lebih pagi, angin
bertiup lebih kencang, bahkan masuk tanpa permisi melalui sela-sela lubang
kecil ventilasi. Gue memutuskan untuk bangun dan membuka mata, mengulet sebentar sambil mengecek handphone, mungkin ada notifikasi pesan yang masuk, walaupun sebetulnya gue tau pesannya pasti dari seseorang yang sama. operator provider. Dengan
nyawa yang masih berceceran yang belum kumpul sepenuhnya, gue memutuskan pergi
ke dapur untuk membuat kopi ataupun
coklat panas. Melawan dingin dengan kehangatan.
Satu cangkir kopi terasa tak cukup. Kopi disuguhkan panas, tapi jika
diacuhkan sebentar seketika berubah dingin. Mengalah pada hembusan angin. Seperti pertengkaran pasangan yang saling membalas
sikap acuh dan berlagak masa bodo. Dibudaki oleh masing-masing ego.
Hari ini gue sedang free, karena gue sudah menyelesaikan
permintaan suatu perusahaan redaksi majalah untuk melaporkan dan mengirim tulisan tentang
suatu event kebudayaan. Iya, gue merupakan pelulis lepas suatu majalah. Setelah
sarapan, gue memutuskan untuk berjalan menikmati hari libur ini, meski cuaca
membuat hari terkesan gloomy. Daripada pasrah selimutan di dalam kamar yang
bisa dibilang cukup berantakan. Sweater dengan hoody gue kenakan, dipadu celana jeans lusuh.
Mungkin sekedar pergi ke toko buku dan mencari bacaan ringan, bisa menjauhkan
gue dari kejenuhan.
Beberapa menit kemudian gue sudah berada di parkiran sebuah
toko di jalan padjajaran. Toko ini mungkin sama beberapa toko buku lain,
bedanya, playlist yang dimainkan di toko buku ini seringkali serupa dengar yang
sering gue dengarkan ketika sedang menikmati lembar demi lembar halam buku. Kenyamanan
memang kadang hadir ketika kita memiliki banyak kesamaan untuk dibicarakan.
Sayup-sayup suara Jason Mraz yang khas dipadu permainan
gitar acoustic-nya mulai diputar ketika gue memasuki toko yang disambut dengan
pintu kaca otomatis yang menutup sendiri. Bella
luna, judul lagu yang sedang diputar. Membuat pundak dan kepala gue bergoyang kecil
seketika, sambil menyusuri jajaran rak buku novel yang menggoda untuk dibaca.
Mystery the moon
A hole in the sky
A supernatural nightlight
So full but often right
A pair of eyes a closing one,
A chosen child of golden sun
A marble dog that chases cars
To farthest reaches of the beach and far beyond into the swimming sea of stars
___________________________________
Sejak pagi, terhitung sudah dua toko buku yang saya kunjungi
dan ini adalah toko ketiga yang dimasuki
untuk mencari buku referensi tugak akhir kuliah. Biasalah, mahasiswi tingkat
akhir yang sedang semangat-semangatnya (atau terpaksa semangat) untuk segera
lulus karena tuntutan orang tua yang
ingin anak semata wayangnya mendapat tambahan gelar dibelakang nama. Bisa sedikit
mengharumkan nama keluarga dan bisa jadi bahan cerita ke tetangga bahwa anaknya
sudah jadi sarjana. Tapi dibalik semua itu, saya selalu terharu melihat
perjuangan orang tua saya untuk menyekolahkan saya tinggi-tinggi. Saya sangat
mencintai mereka.
Ketika sedang bingung mencari buku referensi, saya melempar
pandangan kesekitar dan menemukan seorang pria tinggi, tubuhnya bisa dikatakan
ideal, tapi lebih condong kurus. Dia memakai hoddie hitam dipadukan celana
jeans biru tua lusuh, menyampaikan kesan bahwa dia cukup pendiam dan
misterius. Saya berdiri sekitar 5 meter disamping kirinya. Sedangkan dia
berdiri dengan buku ditangannya yang sedang dibaca, didepan jajaran rak buku
novel. Bukunya terbelah tepat ditenganya. Kepalanya mengangguk-ngangguk ke
katas kebawah sambil membuka lembar demi lembar buku ,sesekali menghentakan
jari telunjuknya pada bibir bawahnya. Saya menebak, itu cara dia mencerna
kalimat dalam buku yang agak sukar untuk dicerna.
Pria itu mengingatkan saya pada sosok pria lainnya, pria
yang….. ”ah, sudahlah. Mending fokus
skripsi saja.” Batin saya berkata. Menolak
untuk kembali pada memori manis yang kemudian berujung pahit. Yah, coklat yang
manis bisa juga kadaluwarsa, bukan?? Sehingga layak untuk dibuang dan bukan
untuk ditelan. Walaupun ada saja orang yang malah berusaha untuk menelan. Menelan
pahitnya kenangan.
Tapi sepertinya membeli novel untuk jadi bacaan ringan
disela-sela waktu luang pengerjaan skripsi ini jadi ide yang baik, sedikit
hiburan untuk me-refresh pikiran.
A cosmic fish they
love to kiss
They're giving birth to constellation
No riffs and oh, no reservation.
If they should fall you get a wish or dedication
May I suggest you get the best
For nothing less than you and I
Let's take a chance as this romance is rising over before we lose the lighting
Oh bella bella please
Bella you beautiful luna
Oh bella do what you do
Do do do do do
___________________________________
Ketika sedang asyik membaca, entah kenapa tiba- tiba gue
menoleh ke belakang. Merasa ada yang sedang memperhatikan. Atas nama kegeeran,
gue hanya bisa senyum dan melanjutkan lagi untuk membaca sambil berpikir bahwa “mungkin gue emang keren, jadi wajar kalo ada
yang merhatiin.Hehe….”. (Ember dan waktu untuk muntah gue persilahkan, hehe).
Gue sedikit memijat-mijat lembut tengkuk leher gue yg agak
pegal karena cukup lama menunduk, kemudian agak terkaget menemukan wanita berambut pendek dan kacamata
unik yang menghiasi wajahnya tidak berada jauh disamping kanan gue. Mungkin saking keasyikan membaca, gue nggak
sadar kalo cewek disebelah gue juga sudah lama berada disana. Mendinglah
yang gue temuin disamping gue adalah cewe berdiri masih dengan kakinya, daripada cewek yang berdiri
dengan kaki yang nggak napak tanah. Kaya….. cewe yang berdirinya selalu handstand. Kakinya ngga napak tanah karena
tangannya yang dibawah. (mari mendengarkan suara jangkrik yg datang entah darimana)
“sejak kapan cewe ini
ada dimari??”. batin gue bertanya.
Dari kacamatanya yang agak tebal, gue menebak dia mungkin kutu buku. tapi kacamatanya menambah kesan manis pada wajahnya yg oval. Dia menoleh, dan seketika gue meleleh. Kulitnya
putih seperti tepung, merona seperti senja. Kemudian dalam beberapa detik yang mendadak berjalan lambat, terjadilah saling
pandang memandang antara kutu buku dan kutu kasur. Rambut pendeknya yang hanya sampai bahu
seakan-akan tertiup angin, gerakan rambutnya dibalas dengan bulu hidung gue yang tiba-tiba memanjang
keluar dari lubang ingin tertiup angin juga, tak mau kalah. Oke, deskripsinya
mulai berlebihan. But you know what?? Gue akhirnya sadar kalo adegan seperti
film ini memang enak digambarkan dengan gerak lambat.
Gue buru-buru mengalihkan melempar pandangan kembali pada
halaman buku dan berpura-pura lebih mendekatkan wajah pada buku sambil memicingkan mata, layaknya orang yang
berusaha untuk mebaca lebih jelas suatu aksara . Satu tindakan bodoh ketika
elo salah tingkah. Padahal mungkin saat itu gue seharusnya bisa merespons
dengan tindakan yang lebih keren dan inovatif, seperti misalnya langsung membaca
buku dengan posisi kayang.
You are an
illuminating anchor
Of leagues to infinite number
Crashing waves and breaking thunder
Tiding the ebb and flows of hunger
You're dancing naked there for me
You expose all memory
You make the most of boundary
You're the ghost of royalty imposing love
You are the queen and king combining everything
Intertwining like a ring around the finger of a girl
I'm just a singer, you're the world
All I can bring ya
Is the language of a lover
Bella luna, my beautiful, beautiful moon
How you swoon me like no other
___________________________________
Setelah beberapa detik yang terasa lama, setelah debaran jantung yang sudah
mulai mereda . Saya coba mencuri pandangan lagi kearah pria disebelah saya. Kali
ini saya tertangkap basah, dia juga pasti sudah mengantisipasinya. Apa mungkin
dia sadar kalau saya juga sudah memperhatikannya sejak tadi?? Tetapi kali ini
dia melemparkan senyum manis pada saya, memamerkan gigi gingsulnya. Membuat saya
mati ditempat beberapa saat, tapi akhirnya saya tersadar dan sebisa mungkin
membalas juga dengan senyum yang natural, berharap bisa menutupi wajah saya yang
mulai memerah. Saya salah tingkah.
Di perjalan pulang saya mengutuk diri sendiri karena lupa
membeli buku referensi yang saya butuhkan. Saya hanya membawa pulang buku novel
dan juga ingatan tentang kejadian tadi. Sukses membuat saya tersenyum-senyum
sendiri. Saya bahagia tapi juga sedikit kesal. Kesal tidak mendapatkan buku
referensi yang saya cari sejak pagi. Kesal pada mulut yang mendadak lupa
caranya berbicara barang sekedar “hai”. Kesal karena hanya bisa membalas senyum
pria tadi. Kesal karena tidak tahu kapan bisa bertemu kembali. saya akui. Saya jatuh
hati.
May I suggest you get
the best
Of your wish may I insist
That no contest for little you or smaller I
A larger chance happened, all them they lie
On the rise, on the brink of our lives
Bella please
Bella you beautiful luna
Oh bella do what you do
Bella luna, my beautiful, beautiful moon
How you swoon me like no other, oh oh oh
_________________________________
Cewek itu sudah keluar meninggalkan toko buku sejak 15 menit yang lalu, tapi juga sosoknya
mulai masuk menguasai pikiran gue. Sekarang, gue cuman bisa ketawa geli sambil
menyesali kebodohan gue karena nggak nanya nama ataupun hanya untuk sekedar menyapa.
Pada akhirnya batin gue hanya bisa menyapa sosoknya yang
baru saja hadir dalam pikiran. “hello,
stranger. May I call you….. hmmm… bellaluna??!”
awalnya waktu pertama gue baca gue gak ngerti kok percakapannya ada "gue & saya" ? jujur gue gak terlalu ngerti, waktu gue kasii liat ke temen gue juga sama gak ngertinya kayak gue. tapi setelah dibaca lagi gue baru ngeh hehe maklum lola :D
ReplyDeleteoiy, ternyata lu masih sama kayak dulu gak berubah, masih suka sama cewek berambut pendek & berwajah oval.
hahaha. emang sengaja ribet sih nulis ceritanya. :-D
ReplyDeletewell, you know me.