Wednesday, November 27, 2013

Bellaluna

Pagi ini cuaca dingin sudah menyapa lebih pagi, angin bertiup lebih kencang, bahkan masuk tanpa permisi melalui sela-sela lubang kecil ventilasi. Gue memutuskan untuk bangun dan membuka mata, mengulet sebentar sambil mengecek handphone, mungkin ada notifikasi pesan yang masuk, walaupun sebetulnya gue tau pesannya pasti dari seseorang yang sama. operator provider. Dengan nyawa yang masih berceceran yang belum kumpul sepenuhnya, gue memutuskan pergi ke dapur untuk membuat kopi ataupun coklat panas. Melawan dingin dengan kehangatan. 

Satu cangkir kopi  terasa tak cukup. Kopi disuguhkan panas, tapi jika diacuhkan sebentar seketika berubah dingin. Mengalah pada hembusan angin.  Seperti pertengkaran pasangan yang saling membalas sikap acuh dan berlagak masa bodo. Dibudaki oleh masing-masing ego.

Hari ini gue sedang free, karena gue sudah menyelesaikan permintaan suatu perusahaan redaksi majalah untuk melaporkan dan mengirim tulisan tentang suatu event kebudayaan. Iya, gue merupakan pelulis lepas suatu majalah. Setelah sarapan, gue memutuskan untuk berjalan menikmati hari libur ini, meski cuaca membuat hari terkesan gloomy. Daripada pasrah selimutan di dalam kamar yang bisa dibilang cukup berantakan. Sweater dengan hoody  gue kenakan, dipadu celana jeans lusuh. Mungkin sekedar pergi ke toko buku dan mencari bacaan ringan, bisa menjauhkan gue dari kejenuhan.


Beberapa menit kemudian gue sudah berada di parkiran sebuah toko di jalan padjajaran. Toko ini mungkin sama beberapa toko buku lain, bedanya, playlist yang dimainkan di toko buku ini seringkali serupa dengar yang sering gue dengarkan ketika sedang menikmati lembar demi lembar halam buku. Kenyamanan memang kadang hadir ketika kita memiliki banyak kesamaan untuk dibicarakan.

Sayup-sayup suara Jason Mraz yang khas dipadu permainan gitar acoustic-nya mulai diputar ketika gue memasuki toko yang disambut dengan pintu kaca otomatis yang menutup sendiri.  Bella luna, judul lagu yang sedang  diputar.  Membuat pundak dan kepala gue bergoyang kecil seketika, sambil menyusuri jajaran rak buku novel yang menggoda untuk dibaca.

Mystery the moon

A hole in the sky
A supernatural nightlight
So full but often right
A pair of eyes a closing one,
A chosen child of golden sun
A marble dog that chases cars
To farthest reaches of the beach and far beyond into the swimming sea of stars

___________________________________

Sejak pagi, terhitung sudah dua toko buku yang saya kunjungi  dan ini adalah toko ketiga yang dimasuki untuk mencari buku referensi tugak akhir kuliah. Biasalah, mahasiswi tingkat akhir yang sedang semangat-semangatnya (atau terpaksa semangat) untuk segera lulus karena tuntutan orang tua yang ingin anak semata wayangnya mendapat tambahan gelar dibelakang nama. Bisa sedikit mengharumkan nama keluarga dan bisa jadi bahan cerita ke tetangga bahwa anaknya sudah jadi sarjana. Tapi dibalik semua itu, saya selalu terharu melihat perjuangan orang tua saya untuk menyekolahkan saya tinggi-tinggi. Saya sangat mencintai mereka.

Ketika sedang bingung mencari buku referensi, saya melempar pandangan kesekitar dan menemukan seorang pria tinggi, tubuhnya bisa dikatakan ideal, tapi lebih condong kurus. Dia memakai hoddie hitam dipadukan celana jeans biru tua lusuh, menyampaikan kesan bahwa dia cukup pendiam dan misterius. Saya berdiri sekitar  5 meter disamping kirinya. Sedangkan dia berdiri dengan buku ditangannya yang sedang dibaca, didepan jajaran rak buku novel. Bukunya terbelah tepat ditenganya. Kepalanya mengangguk-ngangguk ke katas kebawah sambil membuka lembar demi lembar buku ,sesekali menghentakan jari telunjuknya pada bibir bawahnya. Saya menebak, itu cara dia mencerna kalimat dalam buku yang agak sukar untuk dicerna.

Pria itu mengingatkan saya pada sosok pria lainnya, pria yang….. ”ah, sudahlah. Mending fokus skripsi saja.”  Batin saya berkata. Menolak untuk kembali pada memori manis yang kemudian berujung pahit. Yah, coklat yang manis bisa juga kadaluwarsa, bukan?? Sehingga layak untuk dibuang dan bukan untuk ditelan. Walaupun ada saja orang yang malah berusaha untuk menelan. Menelan pahitnya kenangan.
Tapi sepertinya membeli novel untuk jadi bacaan ringan disela-sela waktu luang pengerjaan skripsi ini jadi ide yang baik, sedikit hiburan untuk me-refresh pikiran.

A cosmic fish they love to kiss

They're giving birth to constellation
No riffs and oh, no reservation.
If they should fall you get a wish or dedication
May I suggest you get the best
For nothing less than you and I
Let's take a chance as this romance is rising over before we lose the lighting
Oh bella bella please
Bella you beautiful luna
Oh bella do what you do
Do do do do do


___________________________________

Ketika sedang asyik membaca, entah kenapa tiba- tiba gue menoleh ke belakang. Merasa ada yang sedang memperhatikan. Atas nama kegeeran, gue hanya bisa senyum dan melanjutkan lagi untuk membaca sambil berpikir bahwa “mungkin gue emang keren, jadi wajar kalo ada yang merhatiin.Hehe….”. (Ember dan waktu untuk muntah gue persilahkan, hehe).

Gue sedikit memijat-mijat lembut tengkuk leher gue yg agak pegal karena cukup lama menunduk, kemudian agak terkaget  menemukan wanita berambut pendek dan kacamata unik yang menghiasi wajahnya tidak berada jauh disamping kanan gue.  Mungkin saking keasyikan membaca, gue nggak sadar kalo cewek disebelah gue juga sudah lama berada disana. Mendinglah yang gue temuin disamping gue adalah cewe berdiri masih dengan kakinya, daripada cewek yang berdiri dengan kaki yang nggak napak tanah. Kaya….. cewe yang berdirinya selalu handstand. Kakinya ngga napak tanah karena tangannya yang dibawah. (mari mendengarkan suara jangkrik yg datang entah darimana)

“sejak kapan cewe ini ada dimari??”. batin gue bertanya.

Dari kacamatanya yang agak tebal, gue menebak dia mungkin kutu buku. tapi kacamatanya menambah kesan manis pada wajahnya yg oval. Dia menoleh, dan seketika gue meleleh. Kulitnya putih seperti tepung, merona seperti senja. Kemudian dalam beberapa detik yang mendadak berjalan lambat, terjadilah saling pandang memandang antara kutu buku dan kutu kasur.  Rambut pendeknya yang hanya sampai bahu seakan-akan tertiup angin, gerakan rambutnya dibalas dengan bulu hidung gue yang tiba-tiba memanjang keluar dari lubang ingin tertiup angin juga, tak mau kalah. Oke, deskripsinya mulai berlebihan. But you know what?? Gue akhirnya sadar kalo adegan seperti film ini memang enak digambarkan dengan gerak lambat.

Gue buru-buru mengalihkan melempar pandangan kembali pada halaman buku dan berpura-pura lebih mendekatkan wajah pada buku  sambil memicingkan mata, layaknya orang yang berusaha untuk mebaca lebih jelas suatu aksara . Satu tindakan bodoh ketika elo salah tingkah. Padahal mungkin saat itu gue seharusnya bisa merespons dengan tindakan yang lebih keren dan inovatif, seperti misalnya langsung membaca buku dengan posisi kayang.

You are an illuminating anchor

Of leagues to infinite number
Crashing waves and breaking thunder
Tiding the ebb and flows of hunger
You're dancing naked there for me
You expose all memory
You make the most of boundary
You're the ghost of royalty imposing love
You are the queen and king combining everything
Intertwining like a ring around the finger of a girl
I'm just a singer, you're the world
All I can bring ya
Is the language of a lover
Bella luna, my beautiful, beautiful moon
How you swoon me like no other

 ___________________________________

Setelah beberapa detik yang terasa lama, setelah debaran jantung yang sudah mulai mereda . Saya coba mencuri pandangan lagi kearah pria disebelah saya. Kali ini saya tertangkap basah, dia juga pasti sudah mengantisipasinya. Apa mungkin dia sadar kalau saya juga sudah memperhatikannya sejak tadi?? Tetapi kali ini dia melemparkan senyum manis pada saya, memamerkan gigi gingsulnya. Membuat saya mati ditempat beberapa saat, tapi akhirnya saya tersadar dan sebisa mungkin membalas juga dengan senyum yang natural, berharap bisa menutupi wajah saya yang mulai memerah. Saya salah tingkah.

Di perjalan pulang saya mengutuk diri sendiri karena lupa membeli buku referensi yang saya butuhkan. Saya hanya membawa pulang buku novel dan juga ingatan tentang kejadian tadi. Sukses membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Saya bahagia tapi juga sedikit kesal. Kesal tidak mendapatkan buku referensi yang saya cari sejak pagi. Kesal pada mulut yang mendadak lupa caranya berbicara barang sekedar “hai”. Kesal karena hanya bisa membalas senyum pria tadi. Kesal karena tidak tahu kapan bisa bertemu kembali. saya akui. Saya jatuh hati.

May I suggest you get the best

Of your wish may I insist
That no contest for little you or smaller I
A larger chance happened, all them they lie
On the rise, on the brink of our lives
Bella please
Bella you beautiful luna
Oh bella do what you do
Bella luna, my beautiful, beautiful moon
How you swoon me like no other, oh oh oh

_________________________________


Cewek itu sudah keluar meninggalkan toko buku  sejak 15 menit yang lalu, tapi juga sosoknya mulai masuk menguasai pikiran gue. Sekarang, gue cuman bisa ketawa geli sambil menyesali kebodohan gue karena nggak nanya nama ataupun hanya untuk sekedar menyapa.

Pada akhirnya batin gue hanya bisa menyapa sosoknya yang baru saja hadir dalam pikiran. “hello, stranger. May I call you….. hmmm… bellaluna??!”

2 comments:

  1. awalnya waktu pertama gue baca gue gak ngerti kok percakapannya ada "gue & saya" ? jujur gue gak terlalu ngerti, waktu gue kasii liat ke temen gue juga sama gak ngertinya kayak gue. tapi setelah dibaca lagi gue baru ngeh hehe maklum lola :D
    oiy, ternyata lu masih sama kayak dulu gak berubah, masih suka sama cewek berambut pendek & berwajah oval.

    ReplyDelete
  2. hahaha. emang sengaja ribet sih nulis ceritanya. :-D
    well, you know me.

    ReplyDelete